Sedekah Desa Sumberdadi: Merawat Warisan, Menyatukan Budaya, dan Meneguhkan Syukur
Lamongan, GNN gerbangnusantaranews.com Desa Sumberdadi, Kecamatan Mantup, Kabupaten Lamongan kembali menggelar tradisi tahunan Sedekah Desa pada Sabtu (4/4/2026). Dimulai pukul 12.30 WIB, acara ini menghadirkan kirab budaya Tumpeng Agung sebagai simbol syukur atas limpahan rezeki sekaligus wujud kecintaan masyarakat terhadap warisan leluhur.
Di bawah kepemimpinan Kepala Desa Sugiono atau akrab disapa Kades Nono, kegiatan ini berlangsung meriah dengan dukungan penuh seluruh lapisan masyarakat. Semangat nguri-nguri budaya Jawa menjadi pijakan utama, memperlihatkan komitmen bersama untuk menjaga tradisi yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Kirab dimulai dari kediaman Kades Nono di Dusun Kedungsumber, lalu diarak keliling desa hingga berakhir di Balai Desa Sumberdadi. Tumpeng Agung yang menjadi pusat perhatian dihiasi hasil bumi—buah, sayuran, hingga jajanan pasar—sebagai simbol kasih sayang Tuhan Yang Maha Esa. Iringan musik tradisional, tarian, dan gamelan menambah nuansa sakral sekaligus meriah sepanjang perjalanan.
Acara turut dihadiri Forkopimcam Kecamatan Mantup, Ketua dan Anggota BPD, Kepala Sekolah SDN Sumberdadi beserta guru, tokoh masyarakat, serta aparat keamanan dari Bhabinkamtibmas, Babinsa, Kokam, dan Banser. Kehadiran mereka memperkuat makna kebersamaan dan gotong royong dalam tradisi ini.
Dalam keterangannya, Kades Nono menegaskan bahwa Sedekah Desa bukan sekadar arak-arakan, melainkan sarana melestarikan budaya leluhur sekaligus mengajarkan generasi muda untuk senantiasa bersyukur. “Tradisi ini mengingatkan kita agar selalu menjaga harmoni dengan alam dan semesta,” ujarnya.
Puncak acara ditutup dengan doa bersama di Balai Desa, memohon keberkahan dan keselamatan bagi seluruh warga. Malam harinya, masyarakat dimanjakan dengan hiburan rakyat berupa pagelaran campursari Abunawas, yang semakin semarak dengan penampilan sinden kondang Prigel Pangayu Anjarwening.
Tradisi Sedekah Desa Sumberdadi membuktikan bahwa budaya bukan sekadar kenangan masa lalu, melainkan ruh yang menghidupi kehidupan bersama, mempererat silaturahmi, dan meneguhkan rasa syukur masyarakat terhadap tanah airnya.(k-stio)











